Karya Aliyah Utamawanti
Langkah
demi langkah telah kami tapaki. Panas, hujan, senang dan duka telah
kami jalani. Kebersamaan ini seakan tak bisa digantikan oleh uang
ataupun berlian yang mahal. Itulah Aku dan Icha. Kami sudah bersahabat
sangat lama, dari mulai Sampai
saat ini di bangku kuliah. Banyak hal yang kami lalui. Sampai di
semester 4 ini kam selalu kompak. Meskipun ada masalah yang menghadang
kami tetap bersama. Saat itu ketika aku sedang berjalan melewati
perpustakaan, aku melihat Icha dududk sendiri dalam keadaan wajah yang
murung.
"Hai Cha....!!? Kmu kenapa??" Tanya ku
"Haah.. Aa.. Aku.. Aku nggak apa – apa kok Ndin?!" Jawabnya terkejut
Hari itu aku melihat sahabatku untuk pertama kalinya tak ceria.
Sebelumnya aku tidak oernah melihatnya seprti itu, yang biasanya ku
lihat adalah goresan senyuman kecil nan manis dari bibirnya. Aku bingung
dan termenung di depannya.
***
 |
| Pesan Terakhir dari Sahabat |
Lalu tiba – tiba dia mengeluarkan selembar formulir beasiswa untuk melanjutkan kuliah semester 5 sampai akhir di Busan University,
Korea Selatan. Karena kebetulan kampus tempat kami kuliah menjalin
kerjasama dengan Busan University di bidang Teknik Arsitektur,
Kedokteran, dan Kesenian.
"Andin... Jika kamu mempunyai kesempatan kuliah dengan beasiswa ke luar negeri, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Icha.
"Ya
aku akan kejar itu, tapi... itu semua nggak mungkin karena aku nggak
secerdas kamu..." Jawabku minder sambil menundukkan kepala.
"Kalau kamu nggak cerdas,
kamu nggak akan nggak masuk Fakultas Kedokteran.. So bagaimana, kamu
masih berminat melanjutkan kuliah ke luar negeri kan??" Sahut Icha
sambil memegang pundakku.
"I.. Iya siih.. Tapi.. kamu juga akan
ikutkan?? Waktu itu kan kita sudah sepakat untuk kuliah bersama di luar
negeri jika memperoleh beasiswa..." Kataku.
"Kalau aku,, aku nggak tahu.. Aku bingung.." Jawab Icha.
"Lhoo kenapa bingung.. Seharusnya kamu ambil beasiswa itu.. Rugi banget kalau nggak kamu ambil..." Sahutku.
"Justru aku ambil ini untuk kamu, Ndin. Supaya kamu nggak mimpi terus ingin kuliah ke luar negeri. Maaf ya, Ndin aku masih ada jam kuliah..." Tutur Icha sambil tersenyum manis. Seakan – akan itu adalah senyuman perpisahan.
Sedangkan aku hanya terangah dan terdiam melihat sahabatku Icha seperti itu.
***
Akhir
– akhir ini aku memang heran melihat perubahan tingkah laku Icha yang
aneh. Ia jarang memasang senyumannya yang manis. Yang dia berikan padaku
sekarang adalah petuah dan motivasi – motivasi agar aku tekun belajar
demi menggapai cita – cita. Mungkin itu karena kami sudah dewasa. Kami
harus menyiapkan diri untuk menatap masa depan yang akan datang. Tapi
sebenarnya itu terlalu aneh. Apa yang terjadi pada sahabatku Icha?
Bahkan untuk kali ini aku tidak bisa membaca tingkah laku Icha yang aneh
itu.
Saat malam, ketika aku sedang menyelesaikan proposal, aku teringat
kepada selembar formulir beasiswa yang diberikan Icha kepadaku. Aku
membaca formuir itu dan bertanya dalam hati.
"Apa aku bisa melanjutkan kuliah ke Universitas Busan? Apa mungkin aku bisa mencapai cita – citaku sebagai seorang dokter?"
Saat aku sibuk memikirkan perasaanku, tiba – tiba handphone ku berdering, ternyata itu telfon dari Icha.
"Hallo Andin..?" Sapa Icha.
"Iya.... Ada apa Cha..?? Tumben malam – malam telfon!?" Sahutku.
"Aku
hanya mengingatkan jangan lupa mengisi formulir beasiswa formulir itu.
Karena formulir itu akan dikumpulkan hari Senin dan pada hari itu juga
akan diadakan seleksi mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa ke
Universitas Busan. Ok friend..!!?"
"Itukan kurang satu minggu lagi.. Kamu tuh lebay banget siih Cha...??! Satu minggu kan masih lama..."
"Iya.. Satu minggu memang lama, tapi hari kan berjalan terus.. ntar tahu – tahu aja udah hari Mingu...."
"Hehehehe...... kok ngelantur gtu siih Cha...??"
"Hehehehe.......
Ngelantur... Ya nggaklah.. Memang satu minggu itukan cepat... Sudah
ya,,, aku hanya mau beritahu itu doang.... Semoga kamu bisa melanjutkan
kuliahmu di Busan yaa teman...!!?"
***
Tiga hari berlalu,
seperti biasa aku menaiki sepeda motor matikku untuk melaju ke kampus.
Sampai di sana banyak mahasiswa kedokteran yang sudah mengumpulkan
proposal, tidak ketinggalan juga aku. Setelah selesai mengumpulkan
proposal, aku langsung menuju tempat dimana biasanya Icha berada, yaitu
perpustakaan. Tapi hari itu beda, aku sama sekali tidak melihat Icha,
mungkin Icha masih ada jam kuliah. Lama aku menunggu Icha di
perpustakaan. Karena jenuh, aku melangkahkan kakiku perlahan – lahan
menuju pintu untuk keluar. Tepat di depan pintu keluar itu aku bertemu
dengan teman sekelas Icha.
"Eee.. Vi... Vitha....!!? Kamu Vitha kan teman sekelas Icha...??"
"Oohhw... Iyaa... Ada apa yaa...?? Bukannya kamu Andin..?"
"
Iyaa,, Aku Andin... Eee,, Icha hari ini masuk kuliah nggak..? Karena
sejak tadi aku nunggu Icha di perpustakaan ini, tapi Icha nggak datang –
datang..."
"Lhoo... Ndin kamu belum tahu yaa....??!!"
"Maksud kamu belum tahu apa... Aku nggak ngerti apa – apa....??"
"Yang bener... Kamu kan sahabatnya Icha yang paling dekat.... Icha sakit, Ndin..."
"Apaa.....!!! Kamu nggak bohong kan Vit.. Emang Icha sakit apa...??!"
"Aku
kurang tahu, tapi ku dengar Icha mengidap kanker.. tapi itu nggak
mungkin.. Karena selama ini Icha nggak menunjukkan tanda – tanda seperti
orang yang sakit parah. Dia malah melakukan aktivitasnya seperti
biasa... Bahkan saat mendengar kabar itu, aku sama sekali nggak
percaya.. Lebih baik kamu sekarang ke rumah Icha "
"Haaahh... Makasih ya Vit atas infonya..."
Sebenarnya
aku nggak percaya tentang apa yang dikatakan oleh Vitha padaku. Tapi
aku juga merasa bingung karena sudah tiga hari aku tak bertemu dengan
Icha. Terakhir aku berkomunikasi dengan Icha lewat telfon. Tanpa pikir
panjang aku langsung menuju rumah Icha.
"Assalamu'alaikum.... ???"
"Wa'alaikumsalam..... Eeehh Non Andin..."
"Bi,, apa Icha ada di rumah? Aku ingin ketemu sama dia Bi..."
"Lhoo,, Non Andin belum tahu yaa,,,!? Non Icha masuk rumah sakit.. Non Icha Sakit Non... "
"Astaghfirullah....!! Apa Bi..? Bibi nggak bohong kan..?? Icha sakit apa Bi..??"
"Non Icha sakit kanker stadium akhir, Non..." Sambil menitihkan air mata.
"Apaa... nggak mungkin....!!"
"Lebih baik Non andin sekarang ke rumah sakit Mutiara Medika sekarang juga.."
"Iyaa,, makasih ya Bi...."
***
Dengan
langkah tergesah – gesah aku segera menuju ke rumah sakit Mutiara
Medika. Sampai di sana aku bertemu dengan kedua orang tua Icha. Mereka
kelihatan sedih. Aku pun berjalan mendekati mereka.
"Keadaan Icha sangat mengkhawatirkan..." Kata mama Icha sambil menangis
"Tante,,, Tante yang sabar yaa Tan.. Tante harus yakin kalau Icha pasti sembuh dan bisa ceria lagi.."
"Tante sudah coba untuk yakin, tapi seprtinya tidak mungkin... mengingat kanker yang di derita Icha sudah sangat parah.."
"Tante harus percya sama Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi Icha, Tante, dan Om.. "
"Iyaa... Terimakasih yaa Andin.. Hanya kamu sahabat yang paling baik untuk Icha... "
"Eee,,, Tante,, bolehkah aku melihat Icha sebentar... Aku ingin tahu keadaan Icha, Tante,,,"
"Boleh Andin,,"
Perlahan
langkahku menuju masuk ruang ICU. Seketika tubuhku lemas. Aku tak
sanggup menahan air mataku yang terus keluar, apalagi saat aku melihat
alat – alat yang dipasangkan ke tubuh Icha. Aku melihat sahabatku
bertarung melawan penyakitnya sendiri. Mengapa Tuhan tak membagi
penyakit Icha kepadaku juga,, aku tak sanggup melihat sahabatku koma
seperti ini.
"Hai.. Cha.. Ini aku Andin.. Sahabatmu... Kenapa kamu
berbaring disini,, ini bukan tempatmu Cha... Apa kamu tahu Cha.. Aku
kangen banget sama kamu.. Aku ingin kamu tertawa lagi Cha, aku ingin
kamu ngajari aku matematika lagi Cha, aku ingin lihat dan dengar kamu
main piano lagi Cha.. aku ingin mengulang semua yang pernah kita jalani
Cha.. Baik suka maupun duka. Cha,, aku ingin kamu buka mata kamu Cha.."
"Sudah.. Andin,,, Icha pasti dengar apa yang kamu katakan... Hanya Icha tak sanggup untuk berbicara.. "
"Tapi Andin ingin Icha buka mata, Tante... Andin ingin Icha melihatku disini..."
Tak
lama kemudian... Tubuh Icha kejang dan alat detak jantung Icha tidak
berjalan lancar. Aku dan mama Icha segera memanggil dokter untuk
memeriksa keadaan Icha. Dokter pun datang dan kami menunggu di luar rung
ICU sambil berdoa agar tidak terjadi apa – apa dengan Icha.
"Andin... Apa sebelumnya Icha pernah bilang ke kamu, bahwa ia mengidap kanker otak.."
"Icha nggak pernah bilang apa – apa ke Andin, Tante.. Mengeluh saja Icha tidak pernah.."
"Ya,,
Allah.. berarti Icha menyembunyikan penyakitnya ini dari kita semua..
Tante juga baru tahu Icha mengidap kanker otak satu minggu yang lalu.
Tante menemukan selembar surat dari rumah sakit yang berada di bawah
bantal Icha. Ternyata surat itu adalah surat pernyataan dari dokter,
yang menyatakan bahwa Icha mengidap kanker otak stadium akhir..."
"Kenapa
Icha menyembunyikan ini dari kita, Tante. Kenapa Icha tak mau
membaginya dengan kita.. tapi memang Tante akhir – akhir ini aku melihat
perubahan pada diri Icha. Icha yang biasanya ceria, suka bercanda,
berubah menjadi seseorang yang murung dan pendiam. Icha lebih suka
menghabiskan waktunya di kampus,, tidak seperti biasanya, ketika Andin
ajak Icha main selalu mau."
"Mungkin Icha sudah tahu saat yang akan tiba ini...." Sahut papa Icha.
"Papa...!!!!"
Beberapa
menit kemudian dokter keluar dari ruang ICU. Tapi aku malihat raut
wajah dokter itu menujukkan kesedihan, semoga hal itu tidak terjadi.
"Ibu,,, Bapak,,, Mungkin ini adalah keputusan Tuhan yang terbaik bagi kita semua..."
"Maksud dokter apa,, anak saya bisa di selamatkan kan, Dok??! Icha selamat kan, Dok??" Kata mama Icha.
"Maaf, Bu, Pak, Adik... Icha tidak bisa diselamatkan,, Icha sudah meninggal..."
"Apa
dokter,, tidak mungkin.. Icha tidak mungkin meninggal.. Icha masih
hidup.. Dia anak semata wayang saya dokter,, Icha anak yang kuat. Dia
tidak mungkin meninggal...."
"Innalillahiwainnaillaihiroji'un.... Icha anakku... sudah Ma,, sudah,, Icha sudah tiada,,"
"Innalillahiwainnaillaihiroji'un....
Icha,,, kenapa kamu harus pergi secepat ini Cha... Tante, Om.. yang
sabar yaa,,, mungkin ini cobaan untuk kita semua..."
Mama Icha langsung menerobos masuk ke rusng ICU.
"Icha,, syang ini mama nak.. Bangun nak ini mama..."
"Ma.. Sudah ma.. Icha sudah meninggal..."
"Tante........."
Tangisan
pun pecah di dalam ruang ICU. Duka pun menyelimuti hari ini. Kami tak
akan lagi menemukan keceriaan Icha lagi, dan aku tak akan lagi menjumpai
Icha yang selalu menyapaku saat di kampus. Tubuhku tiba – tiba lemas,
tak sanggup lagi berdiri tegak. Mama dan papa Icha langsung bersimpuh
karena tak kuat kehilngan anak semata wayangnya itu.
***
Selang
berapa lama kemudian, jenazah Icha di bawa pulang untuk dikebumikan.
Suasana haru dan pilu menyelimuti pemakaman Icha. Begitu batu nisan
telah tertancap di atas tanah merah, duka dan derai air mata tak henti –
hetinya mengalir di pemakaman ini. Lalu langkah demi langkah yang pelan
akhirnya meninggalkan pemakaman.
***
Lima hari setelah
kepergian Icha, aku merasa kesepian. Aku tiidak menemukan lagi senyuman,
gurauan dan suara Icha yang selalu membuatku senang. Rasanya aku masih
belum percaya kalau Icha telah pergi untuk selamanya. Tapi aku telah
mengikhlaskan kepergian Icha.
Sore hari sepulang kuliah aku
menyemptkan diri untuk mampir ke rumah Almarhummah sahabatku Icha. Masih
sangat terlihat suasana duka di rumah Icha, bahkan kedua orang tua Icha
masih belum bisa menghilangkan rasa kehilangan anak semata wayangnya
itu. Aku melihat Mama Icha berada di kamar Icha sambil mengusap – usap
foto anaknya, Icha. Aku pun menghampiri mama Icha.
"Tante... Tante apa kabar....??"
"Tante
baik – baik saja, Andin... Tapi tante sangat merindukan anak tante...
Tante masih belum percaya kalau Icha sudah meninggalkan tante untuk
selama – lamanya... "
"Tante.... tante harus bisa mengikhlaskan
kepergian Icha... Kalau tante sedih terus Icha pasti juga ikutan sedih
disana... Tante nggak mau itu terjadikan... Tante harus yakin, meskipun
Icha udah nggak ada, tapi Icha akan terus ada di sini.. dia tetap nggak
akan pernah menghilang. Tante harus percaya itu."
"Iya, Andin...
tante coba untuk ikhlas,, dan tante tahu akan hal itu.. Kamu tahu Andin,
kamar Icha ini banyak menyimpan kenangan buat tante..."
"Iya, tante.. aku rasa juga begitu..."
"Andin.. Tante tinggal dulu ya sebentar..."
Saat
Mama Icha meninggalkanku sendiri di kamar Icha, aku merasa Icha juga
ada disini, menemaniku. Kenangan tentang Icha masih melekat di otakku.
Semua masih terlihat sama. Mulai dari tatanan foto, tempat tidur yang
dihiasi teddy bear favorit Icha dan tatanan meja belajar yang teratur.
Lalu entah menagapa kakiku terarah ke meja belajar Icha. Aku melihat
sebuah kotak yang berisi buku harian, mungkin itu buku harian Icha. Ku
buka dan ku baca buk harian itu.
Tulisan Icha sangat rapi. Dari
semua tulisan yang tergores di lembaran buku harian itu, aku tertuju
pada bagian lembar buku bagian akhir. Ada tulisan yang membuatku
tercengang dan terdiam.
"Dear Diary....
Ini adalah lembaran
terakhir dri buku harianku.. mungkin ini juga akan menjadi hari
terakhirku untuk menulis si lembaran kertas ini. Aku ingin semua yang
tergores dalam lembaran kertas ini berarti dan bermakna. Segal tentang
hidupku, tentang orang tuaku, tentang sahabatku, dan semua orang yang
kusayangi...
Aku ingin tetap hidup di hati mereka, ingin tersenyum untuk mereka, meski suatu saat nanti sukma ini akan hilang juga.
Untuk
kedua orang tuaku, terimakasih atas segalanya. Atas kasih sayang
kalian, perhatian kalian. Karena tanpa mama dan papa aku tidak akan
hidup sampai sekarang, bahkan aku tidak akan bisa sekuat ini.
Terimakasih untuk sahabat terbaikku, Andin. Kamu memang sahabat yang
selalu ada di setiap aku butuh, sahabat yang tak pernah pamrih dan
sahabat yang selalu temani aku disaat suka maupun duka. Maaf jika aku
sering merepotkanmu. Tanpa kamu, aku tidak akan seperti ini, menjadi
seseorang yang tegar dalam menghadapi semuanya.
Maaf, jika aku tidak bisa membagi rasa duka dan sakit ku ini pada
kalian semua. Aku tak ingin kalian sedih karenaku. Karena hanya untuk
memikirkan ku. Aku tak ingin kalian terbebani oleh ku.
Jika Tuhan
hanya memberiku waktu semalam ini saja, aku nggak akan membiarkan orang –
orang sedih melihatku. Aku akan berusaha tersenyum dan tertawa di depan
mereka. Namun, jika orang – orang sudah melihatku terbaring kaku, aku
nggak ingin setetes air mata jatuh dari semua orang yang ku sayangi,
tetaplah tersenyum walaupaun itu duka. Karena aku akan selalu ada untuk
kalian semua.
Pesan terakhir untuk kedua orang tuaku. Ku mohon kalian
jangan bersedih jika aku telah tiada. Ku mohon kalian jangan menangis
karena kepergianku. Karena aku nggak akan ninggalin mama dan papa.
Kalian adalah orang tuaku yang sempurna. Yang telah berhasil mendidikku.
Terimakasih.. mama, papa... You're my everything...
Dan pesan terakhir untuk sahabatku, Andin. Jangan pernah sia –
siakan waktumu. Kejarlah cita – citamu setinggi langit, raihlah apa yang
kau impikan dan jadikan itu sebuah kenyataan. Karena suatu saat nanti
dunia akan menyambutmu dengan penuh senyuman. Semoga kamu bisa
melanjutkan kuliah ke Universitas Busan. Dan jika kamu kembali tunjukkan
padaku atas keberhasilanmu. Tetaplah semangat dan jadi diri sendiri dan
hadapilah semua masalah dengan senyuman. Kamu adalah sahabat yang
sempurna bagiku. Best friend forever..."
Ku tutup buku harian itu sambil menangis tersedu – sedu. Aku keluar
dari kamar Icha sambil membawa buku harian itu dan berpamitan kepada
orang tua Icha.
Langkahku bergegas menuju kampus lagi. Kini aku nggak
ingin mengecewakan sahabatku dan kedua orang tuaku yang selalu
mendukungku di setiap perjalanan sekolahku. Aku akan mengikuti program
beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Busan. Dan menggapai
cita – citaku disana.
***
Tak terasa lima tahun berlalu. Kini aku pulang menuju Indonesia.
Tak terasa waktu begitu cepat bergulir mengganti lembaran lama menjadi
baru. Aku sudah tidak bisa menahan kerinduanku untuk kembali ke
negeriku. Sesampainya di bandara, aku bertemu dengan orang – orang yang
ku sayangi. Ternyata mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk
menyambut kedatanganku. Tak ketinggalan juga kedua orang tuaku. Aku
sangat merindukan mereka begitu pula dengan kakakku, aku juga sangat
rindu padanya. Tapi ada satu yang nggak ku lihat dari kerumunan orang -
orang yang menyambut kedatanganku. Icha, aku nggak menenukan Icha di
sekitar kerumunan itu. Tapi aku yakin Icha ada untukku disini.
Selang berapa lama setelah kedatanganku di bandara dan melepaskan
kerinduan bersama orang – orang yang ku sayangi. Aku beranjak ke makam
sahabatku Icha. Aku akan melepas kerinduaku pada sahabatku Icha.
"Icha...
Kamu bisa lihat sekarang... Ini aku, sahabatmu, Andin. Aku telah
berhasil menjadi seorang dokter. Aku nggak ingin kamu sedih. Sekarang
tersenyumlah, aku disini. Aku senang banget, berkat motivasi darimu, aku
jadi seseorang yang bisa memaknai hidup dan lebih dewasa. Icha.... Aku
nggak akan pernah melupakanmu. Kamu adalah sahabatku yang tak pernah
lekang oleh waktu. Meskipun kamu sekarang sudah tiada di dunia ini, tapi
di hatiku kamu tetap hidup dan kamu tetap abadi. Kamu adalah seorang
sahabat yang bisa menjadi inspirasi dalam hidupku. Terimakasih sahabat"
Banyak yang ku pelajari dari sahabatku, Icha. Aku bisa menjadi
seperti ini karena aku sadar tanpa usaha dan doa, semua yang ku lakukan
tak akan ada hasilnya. Aku pernah bermimpi lalu terbangun, namun yang ku
lakukan bukan tertidur lagi, tapi aku beranjak dari tempat tidur dan
mengejar mimpi itu sampai ku dapatkan. Dan yang terpenting aku selalu
mengingat pesan terakhir dari sahabatku "Jangan pernah sia – siakan
waktumu. Kejarlah cita – citamu setinggi langit, raihlah apa yang kau
impikan dan jadikan itu sebuah kenyataan. Karena suatu saat nanti dunia
akan menyambutmu dengan penuh senyuman."
PROFIL PENULIS
Nama : Aliyah Utamawanti
TTL : Sidoarjo, 01 Agustus 1994
Alamat : Desa Penambangan, Dusun Kedungsari, RT 14 RW 03 Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur
Agama : Islam
Hobby : Menulis, Menyanyi, Dance, Browsing
Status : Mahasiswa STIE MAHARDHIKA SURABAYA
Zodiak : Leo
Facebook : aliyah.girlz@yahoo.co.id